”Hati kami berbunga-bunga melihat air mulai memasuki areal persawahan, inilah awal dari terwujudnya mimpi kami selama ini”
Inilah ungkapan kegembiraan Ahmad Labide ketua Kelompok Tani ”Mpasanggani” saat pengaliran perdana air irigasi Desa Limboro, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.
Setelah kurang lebih 3 (tiga) tahun tidak menjalankan aktivitas sebagai petani sawah, kini Pak Ahmad beserta 63 anggota kelompok tani lainnya telah mulai melakukan pengolahan tanah untuk persiapan penanaman padi perdana pasca perbaikan irigasi desa.
Sejak Tahun 2002, lahan sawah masyarakat seluas + 30 ha diberokan (tidak diolah) akibat rusaknya sarana irigasi desa.
Selama itu pula kegiatan penanaman padi di desa tersebut berhenti sama sekali. Sebanyak 64 petani pemanfaat hanya mengandalkan penghasilan dari hasil panen Kelapa, untuk mengisi waktu luang mereka terpaksa menekuni pekerjaan lain seperti menjadi buruh diluar desa serta mengolah sagu sebagai bahan makanan pokok alternatif.
Bukan hanya petani sawah yang merasakan dampak kerusakan irigasi, satu-satunya gilingan padi yang ada di Desa Limboro tidak dapat beroperasi karena tidak adanya produksi padi.
Kondisi diatas menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk mengajukan usulan perbaikan irigasi desa, disamping usulan pembangunan jalan usahatani serta kegiatan demplot dan pelatihan.
Sebagai informasi, Desa Limboro berada di Kecamatan Banawa berjarak 9 km dari Ibu Kota Kabupaten Donggala. dan 43 km Kota Palu, Ibu Kota Propinsi Sulawesi Tengah.
Penduduk Desa Limboro berjumlah 1.861 Jiwa, yang terdiri dari 401 Kepala Keluarga (KK), 392 diantaranya tergolong KK miskin.
Komoditi pertanian yang dominan adalah kelapa, padi dan ternak sapi .
Desa Limboro dinilai memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai salah satu lokasi kegiatan P4MI (Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi) di Kabupaten Donggala. Kriteria yang menjadi pertimbangan utama adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mayoritas masih tergolong petani miskin disamping ketersediaan potensi (sumber air dan lahan) untuk dikembangkan.
Proses Pelaksanaan Kegiatan
Pemberdayaan petani dilakuan melalui peningkatan kemampuan petani dalam hal perencanaan dan pelaksanaan pembangunan investasi sarana/prasarana desa yang mendukung inovasi produksi dan pemasaran hasil pertanian. Perencanaan kegiatan investasi desa di Desa Limboro dimulai dari kegiatan pengkajian pedesaan secara partisipatif (Participatory Rural Appraisal-PRA) yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2005. Dalam musyawarah desa penentuan usulan, perbaikan sarana irigasi desa menempati prioritas pertama, sedangkan jalan usahatani menempati prioritas kedua.
Penyusunan proposal oleh KID, termasuk desain dan Rincian Penggunaan Dana melibatkan tim teknis PIU (dari Dinas Prasarana Wilayah). Total Jumlah Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan kembali irigasi sebesar Rp. 282.200.000, pendanaan berasal dari Dana Loan ADB sebesar Rp. 225.200.000, dan swadaya masyarakat senilai Rp 57.000.000 atau sekitar 20,20% dari total anggaran. Swadaya masyarakat terdiri dari lahan, tenaga kerja dan material lokal (pasir).
Kegiatan Investasi Desa dan Inovasi Pertanian
Kegiatan Rehabilitasi Irigasi Desa yang dilaksanakan terdiri dari :
- Pembangunan Kembali Mercu Bendung 1 unit (panjang 15 m, tinggi 1,5 m)
- Pembuatan Saluran Permanen 129 m
- Penggalian Saluran tanah sepanjang 600 m
Peresmian penggunaan irigasi dilaksanakan pada Bulan Maret 2006 oleh Bupati Donggala. Infrastruktur berupa irigasi desa yang telah dibangun hanya merupakan sarana pendukung dari upaya peningkatan pendapatan petani.
Musim tanam perdana pasca pembangunan irigasi desa didahului oleh kegiatan gelar teknologi PTT padi sawah yang berlangsung dari Bulan April – Agustus 2007.
BPTP Sulawesi Tengah selaku penanggungjawab kegiatan bekerjasama dengan KT Mpasanggani dan didukukung oleh semua komponen yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan P4MI. Kegiatan ini melibatkan anggota kelompok tani sejak persiapan (perencanaan), pelaksanaan sekolah lapangan hingga panen.
Metode ini cukup efektif karena inovasi produksi yang diterapkan pada lahan demplot dapat langsung diterapkan oleh petani pada lahannya masing-masing. Teknologi budidaya padi yang diperkenalkan pada kegiatan gelar teknologi diantaranya teknik pesemaian, pemakaian benih unggul, efisiensi penggunaan benih, pemupukan dan pengendalian hama penyakit. Hasil panen Demplot Gelar Teknologi PTT padi sawah cukup tinggi yakni sekitar 7 ton GKP/ha. Sementara rata-rata produksi petani peserta gelar teknologi mencapai 4 ton GKP per ha. Semua petani pemanfaat pada musim tanam ini menggunakan benih berlabel bantuan Pemda Kabupaten Donggala, yang disalurkan melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan. Pada Tabel 1 disajikan dampak pelaksanaan kegiatan P4MI di Desa Limboro.
Tabel 1. Dampak Pelaksanaan Kegiatan P4MI Di Desa Limboro, Kec. Banawa, Kab. Donggala
| No | Uraian | Sebelum | Sesudah |
| 1 | Luas lahan yang mendapat manfaat (Ha) | 5 | 30 |
| 2 | Intensitas tanam (kali/tahun) | 0 - 1 | 2 |
| 3 | Produksi Padi Sawah (Ton/Ha/Tahun) | 2 | 4 |
| 4 | Pendapatan dari Usahatani Padi Sawah (Rp/ha/tahun) | 3,637,791 | 8,863,468 |
| 5 | Penambahan lapangan kerja (Orang) | 10 | 70 |
Bapak Bupati Donggala begitu bangga dengan apa yang telah dicapai melalui kegiatan P4MI di Desa Limboro dan langsung menyerahkan bantuan untuk pembelian 1 unit handtraktor dan 1,2 ton benih kepada Kelompok Tani Mpasanggani. Lahan yang semula bero, kini telah menjadi sumber penghasil beras bagi penduduk Desa Limboro.



